FinanceInsuranceMortgageTechBusinessTravelLegalHealth/FitnessSportsFashionRenovationReviews

No. 1 Free Social Classifieds. Best Social Classifieds, Fonolive.com.

Find hashtags, instagram users, trends

akh_walid instagram users, instagram @akh_walid photos, meanings, pics @akh_walid

akh_walid
akh_walid
Followers: 144085
Following: 134
Kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A'la 87: Ayat 17) - BDG🇮🇩
akh_walid  .
Jawaban:
.
Wa alaikumussalam
.
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du
.
Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang meninggal dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya wajib mempuasakannya.” (HR. Bukhari 1952 dan Muslim 1147)
.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan
.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan
.
Ada wanita yang naik perahu di tengah laut, kemudian dia bernazar, jika Allah menyelamatkan dirinya maka dia akan puasa sebulan. Dan Allah menyelamatkan dirinya, namun dia belum sempat puasa sampai mati.
.
Hingga datang putri wanita itu menghadap Nabi ﷺ , dan dia menyebutkan kejadian yang dialami ibunya. Lantas beliau bertanya: ‘Apa pendapatmu jika ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?’ ‘Ya.’ Jawab wanita itu.
.
Kemudian beliau bersabda, ‘Hutang kepada Allah lebih layak untuk dilunasi. Lakukan qadha untuk membayar hutang puasa ibumu.’ (HR. Ahmad 1861, Abu Daud 3308, Ibnu Khuzaimah 2054, dan sanadnya dishahihkan Al-A’dzami)
.
Juga dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
.
Bahwa Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Sesungguhnya ibuku mati dan beliau memiliki utang puasa nadzar.’
.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Lunasi hutang puasa ibumu.’ (HR. Bukhari 2761, An-Nasai 3657 dan lainnya).
.
Ketiga hadis di atas menunjukkan bahwa ketika ada seorang muslim yang memiliki hutang puasa dan belum dia qadha hingga meninggal maka pihak keluarga (wali) orang ini berkewajiban mempuasakannya
.
Kemudian, dari ketiga hadis di atas, hadis pertama bersifat umum. Dimana qadha puasa atas nama mayit, berlaku untuk semua utang puasa wajib. Baik utang puasa ramadhan maupun utang puasa nadzar.
.
Sedangkan dua hadis berikutnya menegaskan bahwa wali berkewajiban mengqadha utang puasa nadzar yang menjadi tanggungan mayit.
.
Lanjut di komentar
.
smbr: konsultasisyariah
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah
#beranihijrah#pemudahijrah
#istiqomah #muslimah
Likes: 3749
Posted at: 2019-08-18 13:53:18
. Jawaban: . Wa alaikumussalam . Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du . Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang meninggal dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya wajib mempuasakannya.” (HR. Bukhari 1952 dan Muslim 1147) . Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan . Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan . Ada wanita yang naik perahu di tengah laut, kemudian dia bernazar, jika Allah menyelamatkan dirinya maka dia akan puasa sebulan. Dan Allah menyelamatkan dirinya, namun dia belum sempat puasa sampai mati. . Hingga datang putri wanita itu menghadap Nabi ﷺ , dan dia menyebutkan kejadian yang dialami ibunya. Lantas beliau bertanya: ‘Apa pendapatmu jika ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?’ ‘Ya.’ Jawab wanita itu. . Kemudian beliau bersabda, ‘Hutang kepada Allah lebih layak untuk dilunasi. Lakukan qadha untuk membayar hutang puasa ibumu.’ (HR. Ahmad 1861, Abu Daud 3308, Ibnu Khuzaimah 2054, dan sanadnya dishahihkan Al-A’dzami) . Juga dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, . Bahwa Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Sesungguhnya ibuku mati dan beliau memiliki utang puasa nadzar.’ . Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Lunasi hutang puasa ibumu.’ (HR. Bukhari 2761, An-Nasai 3657 dan lainnya). . Ketiga hadis di atas menunjukkan bahwa ketika ada seorang muslim yang memiliki hutang puasa dan belum dia qadha hingga meninggal maka pihak keluarga (wali) orang ini berkewajiban mempuasakannya . Kemudian, dari ketiga hadis di atas, hadis pertama bersifat umum. Dimana qadha puasa atas nama mayit, berlaku untuk semua utang puasa wajib. Baik utang puasa ramadhan maupun utang puasa nadzar. . Sedangkan dua hadis berikutnya menegaskan bahwa wali berkewajiban mengqadha utang puasa nadzar yang menjadi tanggungan mayit. . Lanjut di komentar . smbr: konsultasisyariah . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah #beranihijrah#pemudahijrah #istiqomah #muslimah
akh_walid  .
1. Jika saya buang air kecil, lalu setelah selesai (buang air kecil) keluar lagi beberapa tetes air kencing tersebut dan saya benar-benar melihatnya, bagaimanakah hukum air (kencing) tersebut: najis atau suci?
.
2. Jika saya ingin shalat berjamaah di masjid, sewaktu (saya sedang) dalam perjalanan, saya kesulitan karena di celana saya ada najis bekas buang air kecil tersebut. Kadang-kadang, saya membawa celana ganti
.
Tetapi ini sulit jika saya harus bolak-balik ke kamar mandi untuk mengganti celana. Bagaimana jika saya memakai celana untuk shalat di waktu perjalanan atau di masjid dekat rumah?
.
Jawaban:
.
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
.
Kondisi semacam ini termasuk was-was. Penyakit merupakan godaan setan untuk membingungkan orang yang beribadah. Tujuannya, agar orang ini merasa berat dalam beribadah, sehingga menjadi malas dalam beribadah.
.
Mengingat was-was adalah tipuan setan, maka jangan dituruti, jangan dihiraukan, dan tetap yakin bahwa wudhu Anda tidaklah batal. Semakin dituruti, akan menimbulkan was-was yang lebih besar lagi. Karena itu, banyaklah berlindung kepada Allah dari godaan setan
.
Untuk mengantisipasi penyakit semacam ini, Jibril mengajarkan tata cara wudhu kepada Nabi ﷺ, sebagai berikut
.
“Dari Zaid bin Haritsah, bahwa Nabi ﷺ bersabda bahwa Jibril mendatangi beliau pada awal masa beliau mendapat wahyu. Kemudian, Jibril mengajarkan wudhu dan shalat.
.
Setelah selesai wudhu, beliau mengambil satu cakupan air dan menyiramkannya ke kemaluannya.” (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthni, dan Hakim; dinilai sahih oleh Al-Albani)
.
Sebagian ulama menjelaskan, “Dengan cara ini, jika engkau merasa meneteskan air kencing maka yakinlah bahwa yang menetes itu bukan kencing, tetapi air yang tadi disiramkan.”
.
Allahu a’lam
.
smbr: konsultasisyariah
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah
#beranihijrah#pemudahijrah
#istiqomah #muslimah
Likes: 3476
Posted at: 2019-08-17 00:29:28
. 1. Jika saya buang air kecil, lalu setelah selesai (buang air kecil) keluar lagi beberapa tetes air kencing tersebut dan saya benar-benar melihatnya, bagaimanakah hukum air (kencing) tersebut: najis atau suci? . 2. Jika saya ingin shalat berjamaah di masjid, sewaktu (saya sedang) dalam perjalanan, saya kesulitan karena di celana saya ada najis bekas buang air kecil tersebut. Kadang-kadang, saya membawa celana ganti . Tetapi ini sulit jika saya harus bolak-balik ke kamar mandi untuk mengganti celana. Bagaimana jika saya memakai celana untuk shalat di waktu perjalanan atau di masjid dekat rumah? . Jawaban: . Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. . Kondisi semacam ini termasuk was-was. Penyakit merupakan godaan setan untuk membingungkan orang yang beribadah. Tujuannya, agar orang ini merasa berat dalam beribadah, sehingga menjadi malas dalam beribadah. . Mengingat was-was adalah tipuan setan, maka jangan dituruti, jangan dihiraukan, dan tetap yakin bahwa wudhu Anda tidaklah batal. Semakin dituruti, akan menimbulkan was-was yang lebih besar lagi. Karena itu, banyaklah berlindung kepada Allah dari godaan setan . Untuk mengantisipasi penyakit semacam ini, Jibril mengajarkan tata cara wudhu kepada Nabi ﷺ, sebagai berikut . “Dari Zaid bin Haritsah, bahwa Nabi ﷺ bersabda bahwa Jibril mendatangi beliau pada awal masa beliau mendapat wahyu. Kemudian, Jibril mengajarkan wudhu dan shalat. . Setelah selesai wudhu, beliau mengambil satu cakupan air dan menyiramkannya ke kemaluannya.” (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthni, dan Hakim; dinilai sahih oleh Al-Albani) . Sebagian ulama menjelaskan, “Dengan cara ini, jika engkau merasa meneteskan air kencing maka yakinlah bahwa yang menetes itu bukan kencing, tetapi air yang tadi disiramkan.” . Allahu a’lam . smbr: konsultasisyariah . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah #beranihijrah#pemudahijrah #istiqomah #muslimah
akh_walid  .
Jawab:
.
Wa'alaikumussalam
.
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
.
Kita perhatikan beberapa hadis berikut
.
Pertama, hadis larangan hari sabtu
.
Dari Abdullah bin Busr dari Saudarinya, yang bernama as-Shamma’, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
.
Janganlah kalian berpuasa hari sabtu, kecuali untuk puasa yang Allah wajibkan. Jika kalian tidak memilliki makanan apapun selain kulit anggur atau batang kayu, hendaknya dia mengunyahnya. (HR. Turmudzi 744, Abu Daud 2421, Ibnu Majah 1726, dan dishahihkan al-Albani)
.
Secara tekstual, hadis ini menegaskan tidak boleh puasa di hari sabtu, selain puasa wajib. Untuk menekankan larangan itu, beliau membuat pengandaian, sampaipun orang tidak memiliki makanan, dia diharuskan mengunyah apapun yang bisa dikunyah
.
Kedua, hadis yang membolehkan puasa hari sabtu
.
Hadis pertama, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: Janganlah kalian melakukan puasa di hari jumat saja, kecuali jika dia iringi dengan puasa sehari sebelumnya atau setelahnya. (HR. Bukhari 1985 & Muslim 1144)
.
Hadis kedua, dari Juwairiyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ pernah menemui beliau ketika hari jumat, sementara Juwairiyah sedang puasa.
.
Beliau tanya, “Apa kemarin kamu puasa?”
.
“Tidak.” Jawab Juwairiyah. “Besok kamu punya keinginan untuk puasa?” tanya Nabi ﷺ.
.
“Tidak.” Jawab Juwairiyah.
.
Kemudian beliau meminta agar Juwairiyah membatalkan puasanya. (HR. Bukhari 1986)
.
Dua hadis ini menunjukkan bolehnya puasa di hari sabtu, terutama untuk mengiringi puasa hari jumat.
.
Kesimpulan:
.
Ulama berbeda pendapat dalam memahami hadis-hadis di atas. Ada sebagian ulama yang mengatakan terlarang puasa hari sabtu. Ada yang mengatakan, larangan itu sifatnnya hanya makruh.
.
Dan ada yang memberikan rincian, jika puasa hari sabtu tidak dilakukan secara khusus, hukumnya boleh. Tapi jika dalam rangka khusus puasa hari sabtu, hukumnya makruh. Pendapat ketiga inilah yang lebih tepat.
.
Lanjut di komentar
.
smbr: konsultasisyariah
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah
#beranihijrah#pemudahijrah
#istiqomah #muslimah
Likes: 3020
Posted at: 2019-08-16 13:33:29
. Jawab: . Wa'alaikumussalam . Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, . Kita perhatikan beberapa hadis berikut . Pertama, hadis larangan hari sabtu . Dari Abdullah bin Busr dari Saudarinya, yang bernama as-Shamma’, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: . Janganlah kalian berpuasa hari sabtu, kecuali untuk puasa yang Allah wajibkan. Jika kalian tidak memilliki makanan apapun selain kulit anggur atau batang kayu, hendaknya dia mengunyahnya. (HR. Turmudzi 744, Abu Daud 2421, Ibnu Majah 1726, dan dishahihkan al-Albani) . Secara tekstual, hadis ini menegaskan tidak boleh puasa di hari sabtu, selain puasa wajib. Untuk menekankan larangan itu, beliau membuat pengandaian, sampaipun orang tidak memiliki makanan, dia diharuskan mengunyah apapun yang bisa dikunyah . Kedua, hadis yang membolehkan puasa hari sabtu . Hadis pertama, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: Janganlah kalian melakukan puasa di hari jumat saja, kecuali jika dia iringi dengan puasa sehari sebelumnya atau setelahnya. (HR. Bukhari 1985 & Muslim 1144) . Hadis kedua, dari Juwairiyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ pernah menemui beliau ketika hari jumat, sementara Juwairiyah sedang puasa. . Beliau tanya, “Apa kemarin kamu puasa?” . “Tidak.” Jawab Juwairiyah. “Besok kamu punya keinginan untuk puasa?” tanya Nabi ﷺ. . “Tidak.” Jawab Juwairiyah. . Kemudian beliau meminta agar Juwairiyah membatalkan puasanya. (HR. Bukhari 1986) . Dua hadis ini menunjukkan bolehnya puasa di hari sabtu, terutama untuk mengiringi puasa hari jumat. . Kesimpulan: . Ulama berbeda pendapat dalam memahami hadis-hadis di atas. Ada sebagian ulama yang mengatakan terlarang puasa hari sabtu. Ada yang mengatakan, larangan itu sifatnnya hanya makruh. . Dan ada yang memberikan rincian, jika puasa hari sabtu tidak dilakukan secara khusus, hukumnya boleh. Tapi jika dalam rangka khusus puasa hari sabtu, hukumnya makruh. Pendapat ketiga inilah yang lebih tepat. . Lanjut di komentar . smbr: konsultasisyariah . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah #beranihijrah#pemudahijrah #istiqomah #muslimah
akh_walid  .
Kemudian melalui hadisnya, 
Rasulullah ﷺ juga banyak menegaskan bahwa umat beliau adalah umat terbaik. Dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda
.
Aku diberi keistimewaan yang tidak diberikan nabi-nabi yang lain.., (diantaranya) umatku dijadikan sebagai umat terbaik. (HR. Ahmad 774 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)
.
Kemudian, dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda
.
Kalian melengkapi 70 umat, dan kalian adalah umat terbaik dan paling mulia di sisi Allah. (HR. Turmudzi 3271 dan dihasankan al-Albani)
.
Hari Istimewanya di Hari Terbaik
.
Setiap umat memiliki hari istimewa. Hari yang mereka jadikan sebagai kesempatan untuk berkumpul dalam rangka beribadah bersama. Ada yang memilih hari sabtu, seperti Yahudi, ada yang memilih hari ahad, seperti Nasrani.
.
Dan semua itu atas pilihan pribadi mereka. Padahal manusia tidak pernah tahu, apakah hari yang terbaik dalam hidupnya.
.
Allah memberikan hidayah kepada ummat Muhammad ﷺ. Untuk ummat Muhammad ﷺ, Allah pilihkan hari jumat. Allah tetapkan hari jumat sebagai hari terbaik mereka. Hari bagi mereka untuk berkumpul bersama dalam rangka beribadah.
.
Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
.
Kita yang terakhir, namun yang terdepan. Padahal mereka (yahudi dan nasrani) telah mendapatkan al-kitab sebelum kita, sementara kita diberi kitab setelah mereka.
.
Inilah hari (jumat), mereka menyimpang, tidak menjauhinya, kemudian Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengistimewakan hari jumat. Semua manusia mengikuti kita (umat Muhammad), orang yahudi besok (hari sabtu) dan orang nasrani besok lusa (hari ahad). (HR. Bukhari 876, Muslim 2015 dan yang lainnya)
.
Demikianlah cara Allah memuliakan umat islam. Hingga Allah pilihkan hari istimewa untuk mereka, jatuh pada hari paling mulia, yaitu hari jumat.
.
Pertama, karena hari jumat berada di urutan pertama. Sementara yahudi dan nasrani setelah kita
.
Lanjut di komentar
.
smbr: konsultasisyariah
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah
#beranihijrah#pemudahijrah
#istiqomah #muslimah
Likes: 1941
Posted at: 2019-08-15 14:33:25
. Kemudian melalui hadisnya, Rasulullah ﷺ juga banyak menegaskan bahwa umat beliau adalah umat terbaik. Dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda . Aku diberi keistimewaan yang tidak diberikan nabi-nabi yang lain.., (diantaranya) umatku dijadikan sebagai umat terbaik. (HR. Ahmad 774 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) . Kemudian, dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda . Kalian melengkapi 70 umat, dan kalian adalah umat terbaik dan paling mulia di sisi Allah. (HR. Turmudzi 3271 dan dihasankan al-Albani) . Hari Istimewanya di Hari Terbaik . Setiap umat memiliki hari istimewa. Hari yang mereka jadikan sebagai kesempatan untuk berkumpul dalam rangka beribadah bersama. Ada yang memilih hari sabtu, seperti Yahudi, ada yang memilih hari ahad, seperti Nasrani. . Dan semua itu atas pilihan pribadi mereka. Padahal manusia tidak pernah tahu, apakah hari yang terbaik dalam hidupnya. . Allah memberikan hidayah kepada ummat Muhammad ﷺ. Untuk ummat Muhammad ﷺ, Allah pilihkan hari jumat. Allah tetapkan hari jumat sebagai hari terbaik mereka. Hari bagi mereka untuk berkumpul bersama dalam rangka beribadah. . Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: . Kita yang terakhir, namun yang terdepan. Padahal mereka (yahudi dan nasrani) telah mendapatkan al-kitab sebelum kita, sementara kita diberi kitab setelah mereka. . Inilah hari (jumat), mereka menyimpang, tidak menjauhinya, kemudian Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengistimewakan hari jumat. Semua manusia mengikuti kita (umat Muhammad), orang yahudi besok (hari sabtu) dan orang nasrani besok lusa (hari ahad). (HR. Bukhari 876, Muslim 2015 dan yang lainnya) . Demikianlah cara Allah memuliakan umat islam. Hingga Allah pilihkan hari istimewa untuk mereka, jatuh pada hari paling mulia, yaitu hari jumat. . Pertama, karena hari jumat berada di urutan pertama. Sementara yahudi dan nasrani setelah kita . Lanjut di komentar . smbr: konsultasisyariah . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah #beranihijrah#pemudahijrah #istiqomah #muslimah
akh_walid  .
Perhatikanlah cerita gadis suci nan mulia ini! Cerita tentang seorang pengantin wanita…
Adalah seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah ﷺ bernama Julaibib.
.
Wajahnya tidak begitu menarik. Rasulullah ﷺ menawarinya menikah. Dia berkata (tidak percaya), “Kalau begitu, Anda menganggapku tidak laku?”
.
Beliau bersabda, “Tetapi kamu di sisi Allah bukan tidak laku.” Dan Nabi ﷺ senantiasa terus mencari kesempatan untuk menikahkan Julaibib…
.
Hingga suatu hari, seorang laki-laki dari Anshar datang menawarkan putrinya yang janda kepada
Rasulullah ﷺ agar beliau menikahinya. Nabi ﷺ bersabda kepadanya, “Ya. Wahai fulan! Nikahkan aku dengan putrimu.” “Ya, dan sungguh itu suatu kenikmatan, wahai Rasulullah,” katanya riang.
.
Namun Nabi ﷺ bersabda kepadanya, “Sesungguhnya aku tidak menginginkannya untuk diriku…” “Lalu, untuk siapa?” tanyanya.
Beliau menjawab, “Untuk Julaibib…”
Ia terperanjat, “Julaibib, wahai Rasulullah?!! Biarkan aku meminta pendapat ibunya….”
.
Laki-laki itu pun pulang kepada istrinya seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melamar putrimu. Dia menjawab, “Ya, dan itu suatu kenikmatan…” “Menjadi istri Rasulullah!” tambahnya girang
.
Dia berkata lagi, “Sesungguhnya beliau tidak menginginkannya untuk diri beliau.”
“Lalu, untuk siapa?” tanyanya.
“Beliau menginginkannya untuk Julaibib,” jawabnya
.
Dia berkata, “Aku siap memberikan leherku untuk Julaibib… ! Tidak. Demi Allah! Aku tidak akan menikahkan putriku dengan Julaibib. Padahal, kita telah menolak lamaran si fulan dan si fulan…” katanya lagi
.
Sang bapak pun sedih karena hal itu, dan ketika hendak beranjak menuju Rasulullah ﷺ,  tiba-tiba wanita itu berteriak memanggil ayahnya dari kamarnya, “Siapa yang melamarku kepada kalian?”
.
Rasulullah ﷺ,” jawab keduanya.
Dia berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah ﷺ?”
.
“Bawa aku menuju Rasulullah ﷺ. Sungguh, beliau tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjutnya.
Sang bapak pun pergi menemui Nabi ﷺ, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, terserah Anda. Nikahkanlah dia dengan Julaibib.”
.
Lanjut di komentar
.
smbr: kisahmuslim
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid
Likes: 2403
Posted at: 2019-08-15 14:07:45
. Perhatikanlah cerita gadis suci nan mulia ini! Cerita tentang seorang pengantin wanita… Adalah seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah ﷺ bernama Julaibib. . Wajahnya tidak begitu menarik. Rasulullah ﷺ menawarinya menikah. Dia berkata (tidak percaya), “Kalau begitu, Anda menganggapku tidak laku?” . Beliau bersabda, “Tetapi kamu di sisi Allah bukan tidak laku.” Dan Nabi ﷺ senantiasa terus mencari kesempatan untuk menikahkan Julaibib… . Hingga suatu hari, seorang laki-laki dari Anshar datang menawarkan putrinya yang janda kepada Rasulullah ﷺ agar beliau menikahinya. Nabi ﷺ bersabda kepadanya, “Ya. Wahai fulan! Nikahkan aku dengan putrimu.” “Ya, dan sungguh itu suatu kenikmatan, wahai Rasulullah,” katanya riang. . Namun Nabi ﷺ bersabda kepadanya, “Sesungguhnya aku tidak menginginkannya untuk diriku…” “Lalu, untuk siapa?” tanyanya. Beliau menjawab, “Untuk Julaibib…” Ia terperanjat, “Julaibib, wahai Rasulullah?!! Biarkan aku meminta pendapat ibunya….” . Laki-laki itu pun pulang kepada istrinya seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melamar putrimu. Dia menjawab, “Ya, dan itu suatu kenikmatan…” “Menjadi istri Rasulullah!” tambahnya girang . Dia berkata lagi, “Sesungguhnya beliau tidak menginginkannya untuk diri beliau.” “Lalu, untuk siapa?” tanyanya. “Beliau menginginkannya untuk Julaibib,” jawabnya . Dia berkata, “Aku siap memberikan leherku untuk Julaibib… ! Tidak. Demi Allah! Aku tidak akan menikahkan putriku dengan Julaibib. Padahal, kita telah menolak lamaran si fulan dan si fulan…” katanya lagi . Sang bapak pun sedih karena hal itu, dan ketika hendak beranjak menuju Rasulullah ﷺ,  tiba-tiba wanita itu berteriak memanggil ayahnya dari kamarnya, “Siapa yang melamarku kepada kalian?” . Rasulullah ﷺ,” jawab keduanya. Dia berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah ﷺ?” . “Bawa aku menuju Rasulullah ﷺ. Sungguh, beliau tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjutnya. Sang bapak pun pergi menemui Nabi ﷺ, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, terserah Anda. Nikahkanlah dia dengan Julaibib.” . Lanjut di komentar . smbr: kisahmuslim . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid
akh_walid  .
Jawab:
.
Dalam sebuah hadis nabi Muhammad ﷺ menggambarkan bahwa seorang wanita itu ibarat piala-piala kaca
.
Ini menunjukkan bahwa wanita adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat sensitif yang mana kala hatinya yang telah hancur berkeping-keping maka sangat sulit baginya untuk diperbaiki sebagaimana sulitnya memperbaiki dan membuat utuh kembali sebuah kaca yang telah pecah
.
Oleh karena itu, maka selayaknya kita bersikap hati-hati jangan menumbuhkan harapan-harapan padahal kita tidak ingin menindaklanjuti (serius untuk menikah)
.
Oleh karena itu, perbuatan ini tidak terpuji karena dia hanya akan menimbulkan harapan-harapan dan prasangka-prasangka padahal dia tidak menginginkannya. Maka jangan Anda melakukan perbuatan ini
.
Mengutarakan perasaan kepada wanita Ajnabiyah meskipun alasannya sekedar hanya ingin memberitahukan perasaannya kepada si wanita maka ini adalah diantara jalan-jalan yang diharamkan oleh Allah sehingga terjadinya pacaran
.
Kaidah dalam syariat segala jalan yang mengantarkan kepada keburukan dan ada sangkaan kuat akan terjadi keburukan maka ini adalah perbuatan terlarang.
.
Oleh karena itu kami sarankan kepada penanya untuk mengurungkan apa yang menjadi niatnya (mengungkapkan cinta kepada si wanita, )
.
smbr: konsultasisyariah
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah
#beranihijrah#pemudahijrah
#istiqomah #muslimah
Likes: 4350
Posted at: 2019-08-14 14:37:51
. Jawab: . Dalam sebuah hadis nabi Muhammad ﷺ menggambarkan bahwa seorang wanita itu ibarat piala-piala kaca . Ini menunjukkan bahwa wanita adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat sensitif yang mana kala hatinya yang telah hancur berkeping-keping maka sangat sulit baginya untuk diperbaiki sebagaimana sulitnya memperbaiki dan membuat utuh kembali sebuah kaca yang telah pecah . Oleh karena itu, maka selayaknya kita bersikap hati-hati jangan menumbuhkan harapan-harapan padahal kita tidak ingin menindaklanjuti (serius untuk menikah) . Oleh karena itu, perbuatan ini tidak terpuji karena dia hanya akan menimbulkan harapan-harapan dan prasangka-prasangka padahal dia tidak menginginkannya. Maka jangan Anda melakukan perbuatan ini . Mengutarakan perasaan kepada wanita Ajnabiyah meskipun alasannya sekedar hanya ingin memberitahukan perasaannya kepada si wanita maka ini adalah diantara jalan-jalan yang diharamkan oleh Allah sehingga terjadinya pacaran . Kaidah dalam syariat segala jalan yang mengantarkan kepada keburukan dan ada sangkaan kuat akan terjadi keburukan maka ini adalah perbuatan terlarang. . Oleh karena itu kami sarankan kepada penanya untuk mengurungkan apa yang menjadi niatnya (mengungkapkan cinta kepada si wanita, ) . smbr: konsultasisyariah . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah #beranihijrah#pemudahijrah #istiqomah #muslimah
akh_walid  .
Jawaban:
.
Wa'alaikumussalam
.
Sebaiknya jangan dipanggil demikian, walaupun ada yang berpendapat boleh jika tidak bermaksud menyamakan istri dengan ibunya tetapi hanya untuk mengajari anak agar senantiasa memanggil ibunya dengan panggilan “ummi”, yang artinya “wahai ibuku”
.
Adapun penukilan dari Tafsir Ibnu Katsir, itu bukan berarti bolehnya mengucapkan kata-kata zhihar kepada istri seperti, “Kamu seperti punggung ibuku,”
.
atau kalimat lain yang semakna. Namun maksudnya adalah bila suami terlanjur mengatakan kalimat itu kepada istrinya maka ia tetap sah sebagai suaminya dan boleh menggauli istrinya tanpa memperbarui akad nikah
.
Namun ia wajib menunaikan kaffarah (denda) sebab perkataan itu, karena kalimat yang ia katakan itu telah diringankan hukumnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu tidak dihukumi sebagai talak (cerai) tetapi cukup hanya dengan membayar kaffarah. Wallahu a’lam.
.
Adapun tentang panggilan “dik” atau “ukhti”, setelah kami membaca kitab Ar-Raudhatul Murbi’ Syarah Zadul Mustaqni’ juz 3/195, terdapat penjelasan berikut (yang artinya)
.
“Dan dibenci memanggil salah satu di antara pasutri dengan panggilan khusus yang ada hubungannya dengan mahram, seperti istri memanggil suaminya dengan panggilan ‘Abi’ (ayahku) dan suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘Ummi’ (ibuku).”
.
Jadi, memanggil istri dengan “ukhti” (yang berarti “saudariku”) atau “dik” (yang maksudnya “adikku”) juga dibenci karena termasuk mahramnya, walaupun tidak berniat menyamakan dengan saudarinya.
.
Keterangan ini dikuatkan pula di dalam kitab Al-Mughni juz 17/199, pasal “Dibenci bagi seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan orang yang termasuk mahramnya
.
Seperti suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘Ummi’ (ibuku), ‘Ukhti’ (saudariku), atau ‘Binti’ (putriku).”
.
Lanjut di komentar
.
Smbr: konsultasisyariah
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah
#beranihijrah#pemudahijrah
#istiqomah #muslimah
Likes: 6386
Posted at: 2019-08-14 13:48:12
. Jawaban: . Wa'alaikumussalam . Sebaiknya jangan dipanggil demikian, walaupun ada yang berpendapat boleh jika tidak bermaksud menyamakan istri dengan ibunya tetapi hanya untuk mengajari anak agar senantiasa memanggil ibunya dengan panggilan “ummi”, yang artinya “wahai ibuku” . Adapun penukilan dari Tafsir Ibnu Katsir, itu bukan berarti bolehnya mengucapkan kata-kata zhihar kepada istri seperti, “Kamu seperti punggung ibuku,” . atau kalimat lain yang semakna. Namun maksudnya adalah bila suami terlanjur mengatakan kalimat itu kepada istrinya maka ia tetap sah sebagai suaminya dan boleh menggauli istrinya tanpa memperbarui akad nikah . Namun ia wajib menunaikan kaffarah (denda) sebab perkataan itu, karena kalimat yang ia katakan itu telah diringankan hukumnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu tidak dihukumi sebagai talak (cerai) tetapi cukup hanya dengan membayar kaffarah. Wallahu a’lam. . Adapun tentang panggilan “dik” atau “ukhti”, setelah kami membaca kitab Ar-Raudhatul Murbi’ Syarah Zadul Mustaqni’ juz 3/195, terdapat penjelasan berikut (yang artinya) . “Dan dibenci memanggil salah satu di antara pasutri dengan panggilan khusus yang ada hubungannya dengan mahram, seperti istri memanggil suaminya dengan panggilan ‘Abi’ (ayahku) dan suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘Ummi’ (ibuku).” . Jadi, memanggil istri dengan “ukhti” (yang berarti “saudariku”) atau “dik” (yang maksudnya “adikku”) juga dibenci karena termasuk mahramnya, walaupun tidak berniat menyamakan dengan saudarinya. . Keterangan ini dikuatkan pula di dalam kitab Al-Mughni juz 17/199, pasal “Dibenci bagi seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan orang yang termasuk mahramnya . Seperti suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘Ummi’ (ibuku), ‘Ukhti’ (saudariku), atau ‘Binti’ (putriku).” . Lanjut di komentar . Smbr: konsultasisyariah . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah #beranihijrah#pemudahijrah #istiqomah #muslimah
akh_walid  .
Jawaban:
.
Wa'alaikumussalam
.
Bismillah walhamdulillah adalah sholaatu wassalam'ala Rasulillah wa ba'du
.
Ada hadis shahih yang berbunyi
.
Kuraib, maula Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, telah menceritakan kabar dari Abdullah bin Abbas, bahwa beliau pernah melihat Abdullah bin Harits sholat dengan kondisi rambut kepala terikat di belakangnya. Lalu Ibnu Abbas bergegas melepas rambut yang terikat itu
.
Seusai sholat, Abdullah bin Harits menemui Ibnu Abbas, “Mengapa Anda memperlakukan rambut kepalaku seperti itu?”
.
“Aku mendengar…” Jawab Ibnu Abbas,”Rasulullah ﷺ bersabda, “Permisalan orang yang sholat dengan rambut terikat seperti ini, seperti orang yang sholat dengan kondisi kedua tangannya diikat ke belakang.” (HR. Muslim dan yang lainnya)
.
Hadis ini menjelaskan bahwa, orang yang sholat dengan kondisi rambut kepala terikat, seperti orang sholat dengan keadaan kedua tangan terikat ke belakang.
.
Mengapa dipermisalkan demikian?
.
Imam Al Manawi –rahimahullah– memberikan penjelasan dalam kitab Faidhul Qodir
.
“Karena rambut yang terikat tidak akan jatuh mengurai ke tanah. Sehingga kondisi seperti ini, tidak menunjukkan persaksian utuh. Seperti kondisi orang yang sujud sementara kedua tangan terikat, sehingga tidak menyentuh tanah (pent, sujud tidak sempurna). (Faidhul Qodir 3/6)
.
Apa Hikmahnya?
.
Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menjelaskan hikmahnya, saat beliau menegur seorang yang sholat dengan rambut terikat
.
Jika anda sholat, jangan diikat rambut anda. Karena rambut anda akan ikut sujud bersama anda. Dan anda mendapat pahala, dari setiap helai rambut anda. (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, dinukil dari Nailul Author 2/379)
.
Inilah yang mendasari larangan sholat dengan rambut terikat. Namun ada beberapa catatan penting tentang larangan ini:
.
1. Hanya sebatas makruh, bukan haram
.
Sebagaimana diterangkan dalam Ensiklopedia Fikih
.
Para ulama sepakat bahwa sholat dalam kondisi rambut terikat adalah hukumnya makruh
.
Lanjut Di komentar
.
smbr: konsultasisyariah
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah
#beranihijrah#pemudahijrah
#istiqomah #muslimah
Likes: 5769
Posted at: 2019-08-13 14:10:27
. Jawaban: . Wa'alaikumussalam . Bismillah walhamdulillah adalah sholaatu wassalam'ala Rasulillah wa ba'du . Ada hadis shahih yang berbunyi . Kuraib, maula Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, telah menceritakan kabar dari Abdullah bin Abbas, bahwa beliau pernah melihat Abdullah bin Harits sholat dengan kondisi rambut kepala terikat di belakangnya. Lalu Ibnu Abbas bergegas melepas rambut yang terikat itu . Seusai sholat, Abdullah bin Harits menemui Ibnu Abbas, “Mengapa Anda memperlakukan rambut kepalaku seperti itu?” . “Aku mendengar…” Jawab Ibnu Abbas,”Rasulullah ﷺ bersabda, “Permisalan orang yang sholat dengan rambut terikat seperti ini, seperti orang yang sholat dengan kondisi kedua tangannya diikat ke belakang.” (HR. Muslim dan yang lainnya) . Hadis ini menjelaskan bahwa, orang yang sholat dengan kondisi rambut kepala terikat, seperti orang sholat dengan keadaan kedua tangan terikat ke belakang. . Mengapa dipermisalkan demikian? . Imam Al Manawi –rahimahullah– memberikan penjelasan dalam kitab Faidhul Qodir . “Karena rambut yang terikat tidak akan jatuh mengurai ke tanah. Sehingga kondisi seperti ini, tidak menunjukkan persaksian utuh. Seperti kondisi orang yang sujud sementara kedua tangan terikat, sehingga tidak menyentuh tanah (pent, sujud tidak sempurna). (Faidhul Qodir 3/6) . Apa Hikmahnya? . Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menjelaskan hikmahnya, saat beliau menegur seorang yang sholat dengan rambut terikat . Jika anda sholat, jangan diikat rambut anda. Karena rambut anda akan ikut sujud bersama anda. Dan anda mendapat pahala, dari setiap helai rambut anda. (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, dinukil dari Nailul Author 2/379) . Inilah yang mendasari larangan sholat dengan rambut terikat. Namun ada beberapa catatan penting tentang larangan ini: . 1. Hanya sebatas makruh, bukan haram . Sebagaimana diterangkan dalam Ensiklopedia Fikih . Para ulama sepakat bahwa sholat dalam kondisi rambut terikat adalah hukumnya makruh . Lanjut Di komentar . smbr: konsultasisyariah . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah #beranihijrah#pemudahijrah #istiqomah #muslimah
akh_walid  .
Jawaban:
.
Wa'alaikumussalam
.
Tidur Menghadap Kiblat,
Hukum menyelonjorkan kaki atau tidur mengarah ke kiblat adalah boleh. Dengan catatan, selama ka’bah tidak kelihatan..
.
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan:
Tidur di kasur, sementara kaki berada di arah kiblat, tidak ada larangan
.
Bahkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menganjurkan untuk salat dengan cara semacam ini, bagi yang tidak mampu berdiri.
.
Yang terlarang adalah menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air di tanah lapang. Berdasarkan hadis Abu Ayyub Al-Anshari, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
.
“Janganlah menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Berdasarkan keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa tidak ada larangan untuk tidur dan kakinya menghadap ke arah kiblat.  Allahu a’lam. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 17281)
.
Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin menjelaskan: Tidak ada dosa bagi orang yang tidur sementara kakinya ke arah kiblat. Bahkan sebagian ulama mengatakan:
.
Sesungguhnya orang yang sakit, yang tidak mampu berdiri atau duduk maka dia boleh salat sambil tidur miring dan wajahnya menghadap ke kiblat
.
Jika tidak mampu, dia salat sambil terlentang dan kakinya ke arah kiblat.
(Fatawa Ibnu Utsaimin, 2:976)
.
Allahu a’lam
.
Smbr: konsultasisyariah
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah
#dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah
#beranihijrah#pemudahijrah
#istiqomah #muslimah
#muslim #salafi #salaf
Likes: 3820
Posted at: 2019-08-13 10:46:59
. Jawaban: . Wa'alaikumussalam . Tidur Menghadap Kiblat, Hukum menyelonjorkan kaki atau tidur mengarah ke kiblat adalah boleh. Dengan catatan, selama ka’bah tidak kelihatan.. . Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan: Tidur di kasur, sementara kaki berada di arah kiblat, tidak ada larangan . Bahkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menganjurkan untuk salat dengan cara semacam ini, bagi yang tidak mampu berdiri. . Yang terlarang adalah menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air di tanah lapang. Berdasarkan hadis Abu Ayyub Al-Anshari, bahwa Nabi ﷺ bersabda: . “Janganlah menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil.” (HR. Bukhari dan Muslim) . Berdasarkan keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa tidak ada larangan untuk tidur dan kakinya menghadap ke arah kiblat.  Allahu a’lam. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 17281) . Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin menjelaskan: Tidak ada dosa bagi orang yang tidur sementara kakinya ke arah kiblat. Bahkan sebagian ulama mengatakan: . Sesungguhnya orang yang sakit, yang tidak mampu berdiri atau duduk maka dia boleh salat sambil tidur miring dan wajahnya menghadap ke kiblat . Jika tidak mampu, dia salat sambil terlentang dan kakinya ke arah kiblat. (Fatawa Ibnu Utsaimin, 2:976) . Allahu a’lam . Smbr: konsultasisyariah . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah #hijrah #beranihijrah#pemudahijrah #istiqomah #muslimah #muslim #salafi #salaf
akh_walid  .
Jawab:
.
Wa'alaikumussalam wa rahmatullah
.
At-Turmudzi dalam sunannya mengutip perbedaan tentang hukum orang yang sudah witir di awal malam, kemudian meminta tahajud di akhir malam
.
Pertama, sebagian sahabat dan ulama generasi setelahnya berpendapat, bahwa witir di awal malam harus dibatalkan. Dengan cara, dia shalat
.
1 rakaat sebagai penggenap dari witir yang dia lakukan di awal malam. Selanjutnya dia bisa shalat tahajud sesuai yang dia inginkan, kemudian witir lagi di akhir malam. Kata Turmudzi, ini adalah pendapat Ishaq bin Rahuyah
.
Kedua, ulama lain di kalangan para sahabat dan generasi setelahnya mengatakan, orang yang sudah witir di awal malam kemudian hendak tahajud di akhir malam
.
Maka dia bisa langsung shalat sesuai yang dia inginkan, dan tidak perlu membatalkan witirnya. Hanya saja, dia tidak boleh witir lagi.
.
Ini adalah pendapat Sufyan at-Tsauri, Imam Malik, Ibnul Mubarok, Imam Syafii, ulama kufah, dan Imam Ahmad.
.
Kemudian Turmudzi menyimpulkan
.
Pendapat kedua lebih kuat. Karena terdapat beberapa riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau shalat setelah witir. (Sunan at-Turmudzi, 2/318)
.
Oleh karena itu, diperbolehkan bagi orang yang sudah melaksanakan shalat tarawih untuk menambah shalat malam dengan shalat tahajud. Hanya saja, kami menyarankan dua hal:
.
Pertama, hendaknya ikut imam sampai selesai, dan jangan pulang sebelum imam melakukan witir. Tujuannya, agar kita mendapatkan keutamaan berupa pahala seperti shalat semalam suntuk.
.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Abu Dzar, Nabi ﷺ bersabda
.
“Siapa saja yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.” (HR. Nasai 1605, Turmudzi 811; dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth)
.
Kedua, tidak boleh melakukan witir dua kali. Jika sudah witir bersama imam maka ketika tahajud tidak boleh witir lagi. Ini berdasarkan hadis
.
“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Abu Daud 1441, Nasai 1679; dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth)
.
Lanjut Di Komentar
.
Sumber | https://konsultasisyariah.com/6297-tahajud-setelah-tarawih.html
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid
Likes: 4832
Posted at: 2019-05-21 09:49:45
. Jawab: . Wa'alaikumussalam wa rahmatullah . At-Turmudzi dalam sunannya mengutip perbedaan tentang hukum orang yang sudah witir di awal malam, kemudian meminta tahajud di akhir malam . Pertama, sebagian sahabat dan ulama generasi setelahnya berpendapat, bahwa witir di awal malam harus dibatalkan. Dengan cara, dia shalat . 1 rakaat sebagai penggenap dari witir yang dia lakukan di awal malam. Selanjutnya dia bisa shalat tahajud sesuai yang dia inginkan, kemudian witir lagi di akhir malam. Kata Turmudzi, ini adalah pendapat Ishaq bin Rahuyah . Kedua, ulama lain di kalangan para sahabat dan generasi setelahnya mengatakan, orang yang sudah witir di awal malam kemudian hendak tahajud di akhir malam . Maka dia bisa langsung shalat sesuai yang dia inginkan, dan tidak perlu membatalkan witirnya. Hanya saja, dia tidak boleh witir lagi. . Ini adalah pendapat Sufyan at-Tsauri, Imam Malik, Ibnul Mubarok, Imam Syafii, ulama kufah, dan Imam Ahmad. . Kemudian Turmudzi menyimpulkan . Pendapat kedua lebih kuat. Karena terdapat beberapa riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau shalat setelah witir. (Sunan at-Turmudzi, 2/318) . Oleh karena itu, diperbolehkan bagi orang yang sudah melaksanakan shalat tarawih untuk menambah shalat malam dengan shalat tahajud. Hanya saja, kami menyarankan dua hal: . Pertama, hendaknya ikut imam sampai selesai, dan jangan pulang sebelum imam melakukan witir. Tujuannya, agar kita mendapatkan keutamaan berupa pahala seperti shalat semalam suntuk. . Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Abu Dzar, Nabi ﷺ bersabda . “Siapa saja yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.” (HR. Nasai 1605, Turmudzi 811; dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth) . Kedua, tidak boleh melakukan witir dua kali. Jika sudah witir bersama imam maka ketika tahajud tidak boleh witir lagi. Ini berdasarkan hadis . “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Abu Daud 1441, Nasai 1679; dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth) . Lanjut Di Komentar . Sumber | https://konsultasisyariah.com/6297-tahajud-setelah-tarawih.html . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid
akh_walid  .
Jawab:
.
Wa'alaikumus salam
.
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du
.
Ramadhan adalah bulan yang mulia. Namun mulianya ramadhan tidak diimbangi dengan sikap kaum muslimin untuk memuliakannya.
.
Banyak diantara mereka yang menodai kesucian ramadhan dengan melakukan berbagai macam dosa dan maksiat
.
Pantas saja, jika banyak orang yang berpuasa di bulan ramadhan, namun puasanya tidak menghasilkan pahala. Rasulullah ﷺ bersabda:
.
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang dia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad 8856, Ibn Hibban 3481, Ibnu Khuzaimah 1997 dan sanadnya dishahihkan Al-A’zami)
.
Salah satu diantara sebabnya adalah mereka berpuasa, namun masih rajin berbuat maksiat.
.
Pacaran adalah Zina
.
Pacaran tidaklah lepas dari zina mata, zina tangan, zina kaki dan zina hati. Dari Abu Hurairah, Rasul ﷺ bersabda
.
Setiap anak Adam telah ditakdirkan mendapat bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa dielakkan. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar
.
Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan
.
Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
.
Semua anggota badan berpotensi untuk melakukan semua bentuk zina di atas. Mengantarkan kemaluan untuk melakukan zina yang sesungguhnya.
.
Karena itulah, Allah melarang mendekati perbuatan ini dengan menjauhi semua sebab yang akan mengantarkannya. Allah berfirman
.
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)
.
Maksiat Saat Puasa
.
Memahami hal ini, maka sejatinya pacaran adalah perbuatan maksiat. Sementara maksiat yang dilakukan seseorang, bisa menghapus pahala amal shaleh yang pernah dia kerjakan, tak terkecuali puasa yang sedang dijalani
.
Lanjut Di Komentar
.
Sumber | https://konsultasisyariah.com/19221-hukum-pacaran-ketika-puasa.html
.
@akh_walid
.
#akhirat #dosa #maksiat
#muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah
Likes: 4334
Posted at: 2019-05-21 08:47:43
. Jawab: . Wa'alaikumus salam . Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du . Ramadhan adalah bulan yang mulia. Namun mulianya ramadhan tidak diimbangi dengan sikap kaum muslimin untuk memuliakannya. . Banyak diantara mereka yang menodai kesucian ramadhan dengan melakukan berbagai macam dosa dan maksiat . Pantas saja, jika banyak orang yang berpuasa di bulan ramadhan, namun puasanya tidak menghasilkan pahala. Rasulullah ﷺ bersabda: . “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang dia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad 8856, Ibn Hibban 3481, Ibnu Khuzaimah 1997 dan sanadnya dishahihkan Al-A’zami) . Salah satu diantara sebabnya adalah mereka berpuasa, namun masih rajin berbuat maksiat. . Pacaran adalah Zina . Pacaran tidaklah lepas dari zina mata, zina tangan, zina kaki dan zina hati. Dari Abu Hurairah, Rasul ﷺ bersabda . Setiap anak Adam telah ditakdirkan mendapat bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa dielakkan. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar . Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan . Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925) . Semua anggota badan berpotensi untuk melakukan semua bentuk zina di atas. Mengantarkan kemaluan untuk melakukan zina yang sesungguhnya. . Karena itulah, Allah melarang mendekati perbuatan ini dengan menjauhi semua sebab yang akan mengantarkannya. Allah berfirman . “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32) . Maksiat Saat Puasa . Memahami hal ini, maka sejatinya pacaran adalah perbuatan maksiat. Sementara maksiat yang dilakukan seseorang, bisa menghapus pahala amal shaleh yang pernah dia kerjakan, tak terkecuali puasa yang sedang dijalani . Lanjut Di Komentar . Sumber | https://konsultasisyariah.com/19221-hukum-pacaran-ketika-puasa.html . @akh_walid . #akhirat #dosa #maksiat #muslimah #muslim #ingatmati #dakwah #dakwahtauhid #dakwahsunnah #islam #islami#tauhid #sunnah
akh_walid  .
Jawab:
.
Wa'alaikumussalam
.
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du
.
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan
.
Orang puasa ketika dia marah atau bertengkar dengan orang lain, puasanya tetap sah dan tidak wajib dia ulangi. Baik dia sebagai orang mendzalimi maupun yang didzalimi. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no 109481)
.
Hanya saja, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita, agar ketika berpuasa, kita menjadi orang yang berwibawa, menjaga kehormatan dengan menghindari maksiat dan berusaha bersabar dalam setiap keadaan
.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda
.
“Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
.
(HR. Bukhari 1904 & Muslim 1151)
.
Dalam hadis di atas, Rasulullah ﷺ mengajarkan, apabila kita dihina, dimaki orang lain atau diajak berkelahi, agar kita tetap bersabar, menahan diri dan menyampaikan kepada lawan bicara: ‘Saya sedang puasa.’
.
Sehingga lawan biacara tahu bahwa kita tidak membalas kedzalimannya bukan karena lemah atau tidak mampu, tapi karena sikap wara’ dan taqwa kepada Allah. (Fatwa Dr. Sholeh al-Fauzan – kitab ad-Da’wah, 1/158)
.
Pada dasarnya, seseorang dibolehkan marah ketika dia didzalimi. Allah berfirman:
.
Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. An-Nisa' 4: Ayat 148)
.
Akan tetapi, umumnya orang yang marah, dia tidak bisa menahan desakan emosinya. Sehingga dia membalas orang yang dimarahi, melebihi kadar kesahalan orang itu.
.
Ibnu at-Tin – salah satu ulama yang mensyarah Shahih Bukhari – mengatakan
.
Rasulullah ﷺ melalui sabdanya ’Jangan marah!’ telah menggabungkan semua kebaikan dunia dan akhirat. Karena marah bisa menyebabkan permusuhan
.
Dan terkadang menyebabkan dirinya menyakiti orang yang dimarahi. Sehingga bisa mengurangi kadar agamanya
.
Lanjut Di Komentar
.
Sumber | https://konsultasisyariah.com/23032-apakah-marah-membatalkan-puasa.html
.
@akh_walid
Likes: 3344
Posted at: 2019-05-13 10:08:27
. Jawab: . Wa'alaikumussalam . Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du . Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan . Orang puasa ketika dia marah atau bertengkar dengan orang lain, puasanya tetap sah dan tidak wajib dia ulangi. Baik dia sebagai orang mendzalimi maupun yang didzalimi. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no 109481) . Hanya saja, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita, agar ketika berpuasa, kita menjadi orang yang berwibawa, menjaga kehormatan dengan menghindari maksiat dan berusaha bersabar dalam setiap keadaan . Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda . “Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” . (HR. Bukhari 1904 & Muslim 1151) . Dalam hadis di atas, Rasulullah ﷺ mengajarkan, apabila kita dihina, dimaki orang lain atau diajak berkelahi, agar kita tetap bersabar, menahan diri dan menyampaikan kepada lawan bicara: ‘Saya sedang puasa.’ . Sehingga lawan biacara tahu bahwa kita tidak membalas kedzalimannya bukan karena lemah atau tidak mampu, tapi karena sikap wara’ dan taqwa kepada Allah. (Fatwa Dr. Sholeh al-Fauzan – kitab ad-Da’wah, 1/158) . Pada dasarnya, seseorang dibolehkan marah ketika dia didzalimi. Allah berfirman: . Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. An-Nisa' 4: Ayat 148) . Akan tetapi, umumnya orang yang marah, dia tidak bisa menahan desakan emosinya. Sehingga dia membalas orang yang dimarahi, melebihi kadar kesahalan orang itu. . Ibnu at-Tin – salah satu ulama yang mensyarah Shahih Bukhari – mengatakan . Rasulullah ﷺ melalui sabdanya ’Jangan marah!’ telah menggabungkan semua kebaikan dunia dan akhirat. Karena marah bisa menyebabkan permusuhan . Dan terkadang menyebabkan dirinya menyakiti orang yang dimarahi. Sehingga bisa mengurangi kadar agamanya . Lanjut Di Komentar . Sumber | https://konsultasisyariah.com/23032-apakah-marah-membatalkan-puasa.html . @akh_walid


Copyrights © 2019 Voticle. All Rights Reserved.